Wednesday, 10 October 2012

7 tokoh misterius dan Presiden sebelum Soekarno

Supriyadi
Siapa sih yang tidak kenal dengan sosok pahlawan satu ini. Supriyadi adalah pahlawan nasional Indonesia, pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, namun tidak pernah muncul untuk menempati jabatan tersebut.
Pada waktu itu, Supriyadi memimpin sebuah pasukan tentara Bentukan Jepang yang beranggotakan orang orang Indonesia. Karena kesewenangan dan diskriminasi tentara Jepang terhadap tentara PETA dan rakyat Indonesia, Supriyadi gundah. Ia lantas memberontak bersama sejumlah rekannya sesama tentara PETA. Namun pemberontakannya tidak sukses. Pasukan pimpinan Supriyadi dikalahkan oleh pasukan Bentukan Jepang lainnya, yang disebut Heiho.
Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya. Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang.
Namun yang membikin sosok Supriyadi semakin misterius adalah banyaknya kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Salah satu yang cukup kontroversial adalah sebuah acara pembahasan buku ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’, yang diadakan di Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran Semarang. Dalam acara itu, seorang pria sepuh bernama Andaryoko Wisnu Prabu membuka jati diri dia sesungguhnya. Dia mengaku sebagai Supriyadi, dan kini berusia 88 tahun.
Namun sampai sekarang pengakuan tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya, meski secara perawakan dan sejumlah saksi membenarkan klaim tersebut. seperti artikel sebelumnya profil-dan-misteri-pahlawan-supriyadi

Tan Malaka

Salah satu sosok pahlawan nasional kita yang terlupakan. Mungkin salah sedikit (atau satu-satunya) sosok pahlawan yang memiliki kisah petualangan dari negara ke negara lain dan menjadi sosok yang paling dicari oleh Belanda dan banyak negara lain. Selain itu, pada masa revolusi kemerdekaan keberadaannya selalu dicari oleh para pejuang pada saat itu (termasuk oleh Bung Karno) karena hobinya melakukan penyamaran untuk menghindari mata-mata musuh, sehingga sosoknya selalu misterius dan tidak banyak yang mengenal dengan pasti seperti apa sosok yang bernama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu.
Namun sayangnya keberadaan dari tokoh aliran kiri ini hilang secara misterius dalam pergolakan revolusi kemerdekaan itu. Konon kabarnya Tan Malaka dibunuh pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya di daerah Kediri, Jawa Timur. Hingga kini makamnya tidak pernah bisa ditemukan.
Gunadarma
Borobudur dan Gunadarma adalah dua nama yang tidak bisa terpisahkan. Dalam sejumlah literatur, Candi Borobudur diarsiteki oleh sekelompok kaum atau sekelompok brahmana yang meletakkan dasar pada sebuah tempat pemujaan nya dan kemudian entah beberapa waktu kemudian (kemungkinan bisa puluhan, ratusan atau malah ribuan) dibuatkan sebuah proyek mega raksasa, pemberian sebuah “kulit” yang katanya dikepalai oleh seorang Arsitek bernama Gunadarma.
Sedangkang siapa sebenarnya sekelompok kaum brahmana yang terdahulu tidak diketemukan catatan resmi tentang mereka, kemudian cerita tentang kepala penanggung jawab mega proyek pembuatan “kulit” situs tersebut yaitu Gunadarma juga tidak ada sebuah keterangan resmi mengenainya, bisa jadi kata Gunadarma adalah sebuah kata symbol dan bukan merupakan nama seseorang.
Kalau memang benar Gunadarma yang mengarsiteki pembangunan Candi Borobudur, maka perlu kita acungi jempol (kalo perlu pake empat kaki!) bagaimana Gunadarma melakukan perencanaan yang tepat dengan kondisi teknologi yang pada saat itu belum begitu canggih. Namun sampai saat ini nama Gunadarma dan Borobudur itu sendiri masih menjadi misteri yang belum bisa diungkapkan dengan tuntas.
Ki Panji Kusmin
Suatu ketika majalah Sastra, dengan cetakan tahun VI No. 48, Agustus 1968, memuat sebuah cerpen yang berjudul Langit Makin Mendung yang dikarang oleh Ki Panji Kusmin (diduga ini nama samaran). Cerpen ini bercerita tentang Nabi Muhammad yang memohon izin kepada Tuhan untuk menjenguk umatnya. Disertai malaikat Jibril, dengan menumpang Bouraq, Nabi mengunjungi Bumi. Namun Bouroq bertabrakan dengan satelit Sputnik sehingga Nabi serta Malaikat Jibril terlempar dan mendarat di atas Jakarta. Di situ Nabi menyaksikan betapa umatnya telah menjadi umat yang bobrok. Cerpen ini adalah sindiran terhadap laku keagamaan masyarakat luas yang ”menyimpang” pada waktu yang belum jauh berselang dari terjadinya Tragedi 1965.
Namun akibat penerbitan Cerpen yang bikin heboh umat ini, Ki Panji Kusmin dituduh telah melakukan penodaan terhadap agama karena mempersonifikasikan Tuhan, Nabi Muhammad, dan Malaikat Jibril. Tanpa ampun lagi H.B. Jassin selaku penanggung jawab majalah itu dibawa ke pengadilan dan dipaksa untuk mengungkap siapa sebenarnya Ki Panji Kusmin. H.B. Jassin menolak untuk mengungkap jati diri Ki Panji Kusmin. Untuk itu ia dituntut Pengadilan Tinggi Medan dan divonis in absentia berupa kurungan selama satu tahun dan masa percobaan dua tahun.
Dan sampai saat ini pun identitas dari Ki Panji Kusmin tidak terungkap dan dibawa hingga ke liang lahat oleh H.B. Jassin.
Imam Sayuti Alias Tebo
Suatu hari, pada 1970 hiduplah sepasang suami-istri Fai dan Nasikah di lereng Gunung Watungan, Desa Wuluhan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Fai bekerja sebagai kuli bangunan, istrinya membantu mencari kayu di hutan Ambulu. Masih pengantin baru, konon mereka belum sempat berhubungan suami-istri, Fai pergi ke kota untuk bekerja di proyek. Fai pun pamit untuk jangka waktu lama.
Ternyata, baru tiga hari pamitan, ‘Fai’ pulang lagi menemui Nasikah. (Dipercaya sebagai gendruwo atau makhluk halus. Postur, cara bicara, suara, dan perilakunya persis Fai, sang suami asli). Nah, si gendruwo yang menyamar sebagai Fai ini kemudian menyetubuhi Nasikah.
Nasikah, wanita desa itu, tenang-tenang saja karena menganggap ‘laki-laki’ itu suaminya yang sah. Bulan ketujuh Nasikah hamil, Fai palsu pamit. Datanglah Fai yang asli. Maka gegerlah sudah keluarga baru ini. Untung saja, ulama terkemuka di Ambulu meminta Fai untuk bersabar karena istrinya tidak selingkuh. Ada pesan atau isyarat spiritual yang terjadi dengan istrinya. Lalu, lahirlah bayi penuh rambut di tubuh dengan bintik-bintik merah. Orang tuanya memberi nama Imam Sayuti. Tapi laki-laki kekar ini diberi nama gaib, Tebo, sesuai dengan petunjuk ‘dari langit’. Tebo kemudian diasuh oleh pasangan suami-istri ini layaknya anak mereka sendiri.
Sosok ini cukup menarik perhatian ketika Tebo dititipkan oleh manajer Wahana Misteri (penyelenggara pameran yang berkaitan dengan hal-hal gaib) pada tahun 1990 dan menjadi bintang pameran di sana. Akhirnya kontroversi keberadaan sosok ini merebak.
Tentu suatu hal yang ganjil jika ada makhluk alam lain bisa ’bersetubuh’ dengan manusia dan melahirkan manusia ’gado-gado’. Hingga saat ini belum ada penelitian yang lebih ilmiah untuk membuktikan keberadaan ’makhluk’ ini.
Perobek Bendera Belanda di Hotel Oranje/Yamato
Peristiwa 10 November 1945 tentu tidak lepas dari dipicunya oleh salah satu peristiwa yang paling heroik, yaitu perobekan bendera Belanda di atas Hotel Oranje. Kisah ini dipicu oleh berita bahwa di Hotel Oranje di Tunjungan telah dikibarkan bendera Belanda merah-putih-biru oleh Mr Ploegman. Tentu saja hal tersebut tidak diterima oleh para arek-arek Suroboyo yang merasa pengibaran bendera tersebut dianggap sebagai penghinaan sebagai bangsa yang merdeka.
Pada akhirnya Mr. Ploegman dibunuh oleh seorang pemuda mendekati dirinya tanpa ia ketahui dan menusukkan pisaunya bertubi-tubi. Pada saat itu Mr. Ploegman menghadapi ribuan massa di depan hotel yang menuntut penurunan bendera triwarna tersebut. Pada saat itu teriakan untuk menurunkan bendera kian membahana. Sejumlah pemuda telah membawa tangga untuk naik ke atap hotel, terdapat 8 sampai 10 pemuda. Dari atap ada yang naik ke tiang bendera dalam gemuruh teriakan, lalu bagian biru bendera itu pun dirobek, dan jadilah kini Sang Merah Putih yang berkibaran di angkasa.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang menjadi perobek bendera tersebut? Dalam kondisi yang sangat kacau dan penuh massa, tentu tidak mudah bagi para saksi sejarah untuk mengetahui secara pasti siapakah yang melakukannya.
Penulis Buku Darmogandhul
Mungkin di antara karya-karya sastra kuno berbahasa Jawa, kitab Darmogandhul adalah salah satu sastra Jawa yang sangat kontroversial. Selain isinya banyak memutarbalikkan ajaran agama tertentu, juga kitab ini sarat dengan sejumlah keganjilan-keganjilan sejarah sebenarnya.
Walaupun menggunakan latar belakang kisah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak Bintara, namun kisah Darmogandhul mencuatkan hal-hal yang tidak masuk akal pada zamannya. Hal ini didapati pada untaian kisah berikut:
… wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, …
Maksudnya: pasukan Majapahit menembak dengan senapan, sedangkan pasukan Giri berguguran akibat tidak kuat menerima timah panas. Apakah zaman itu sudah digunakan senjata api dalam berperang? Hal tersebut tidak mungkin sebab senjata api baru dikenal sejak kedatangan bangsa Eropa ke bumi Nusantara. Darmogandhul ditulis setelah kedatangan bangsa Eropa, bukan pada saat peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak Bintara.
Lalu siapakah sebenarnya penulis kitab ini? Sampai saat ini belum ada yang bisa menunjukkan secara pasti siapakah pengarang kitab ’ngawur’ ini. Namun dari sejumlah Analisis tulisan dan latar belakang sejarah dalam kitab itu, Darmogandhul ditulis pada masa penjajahan Belanda. Penulis Darmogandul bukan orang yang tahu persis sebab-sebab keruntuhan Majapahit yakni Perang Paregreg yang menghancurkan sistem politik dan kekuasaan Majapahit, juga hilangnya pengaruh agama Hindu. Kitab Darmogandhul diduga hanya produk rekayasa sastra Jawa yang dipergunakan untuk kepentingan penjajah Belanda

Mantan-mantan presiden Indonesia yang tidak dicatat sejarah

Dalam sejarahnya, Negara Indonesia pernah mengalami pergantian sistem pemerintahan. Dari kesatuan berubah menjadi serikat dan berubah kembali menjadi kesatuan hingga kini. Demikian juga dengan pemimpinnya atau presidennya. Selama 66 tahun berdiri sebagai Negara, telah terjadi berkali-kali pergantian pemimpin di Indonesia. Mulai dari Ir. Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono sekarang.
Sebagai penjabat presiden, umumnya orang Indonesia hanya mengenal Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarno Putrie dan Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal masih ada dua lagi presiden Indonesia dan jarang sekali disebut, yakni Syafrudin Prawiranegara dan Mr. Asaat. Dua orang ini pernah menjabat sementara ketika eranya Soekarno.
Mr. Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun) adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948. Syafrudin Prawiranegara menjabat Presiden/ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik  Indonesia) ketika Soekarno dan M. Hatta ditawan Belanda dan ketika ibukota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Agar pemerintahan tetap eksis dan berjalan, akhirnya dibentuklah PDRI dengan Syafrudin Prawiranegara sebagai penjabat presiden. Syafrudin menjabat Presiden Indonesia Darurat sejak 19 Desember 1948.
Mr.assaat
Siapa Mr. Assaat ?
Lahir di sebuah kampung bernama Kubang Putih Banuhampu, pada tanggal 18 September 1904. Memasuki sekolah agama “Adabiah” dan MULO Padang, selanjutnya ke STOVIA Jakarta. Karena jiwanya tidak terpanggil menjadi seorang dokter, ditinggalkannya STOVIA dan melanjutkan ke AMS (SMU sekarang). Dari AMS Assaat melajutkan studinya ke Rechts Hoge School (Sekolah Hakim Tinggi) juga di Jakarta.
Ketika menjadi studen RHS inilah, beliau memulai berkecimpung dalam gerakan kebangsaan, ialah gerakan pemuda dan politik. Masa saat itu Assaat giat dalam Organisasi pemuda “Jong Sumatranen Bond”. Karir politiknya makin menanjak lalu berhasil menduduki kursi anggota Pengurus Besar dari “Perhimpunan Pemuda Indonesia”. Ketika Perhimpunan Pemuda Indonesia mempersatukan diri dalam “Indonesia Muda”, ia terpilih mejadi Bendahara Komisaris Besar ” Indonesia Muda”.
Dalam kedudukannya menjadi studen (mahasiswa), Assaat memasuki pula gerakan politik “Partai Indonesia” disingkat Partindo. Dalam partai ini, Assaat bergabung dengan pemimpin Partindo seperti : Adnan Kapau Gani, Adam Malik, Amir Syarifuddin dan lain-lainnya.
Kegiatannya di bidang politik pergerakan kebangsaan, akhirnya tercium oleh profesornya dan pihak Belanda, sehingga dia tidak diluluskan walaupun setelah beberapa kali mengikuti ujian akhir. Tersinggung atas perlakuan demikian, gelora pemudanya makin bergejolak, dia putuskan meninggalkan Indonesia pergi ke negeri Belanda. Di Nederland dia memperoleh gelar “Meester in de rechten” (Sarjana Hukum).
Sekitar tahun 1946-1949, di Jalan Malioboro Yogyakarta sering terlihat seorang Berbadan kurus semampai berpakaian sederhana sesuai dengan irama revolusi.
Terkadang ia berjalan kaki, kalau tidak bersepeda menelusuri Malioboro menuju ke kantor KNIP tempatnya bertugas. Orang ini tidak lain adalah Mr. Assaat, yang selalu menunjukkan sikap sederhana berwajah cerah dibalik kulitnya kehitam-hitaman. Walaupun usianya saat itu baru 40 tahun, terlihat rambutnya mulai memutih. Kepalanya tidak pernah lepas dari peci beludru hitam.
Mungkin generasi sekarang yang berumur 30 sampai 35 tahun, kurang atau sedikit sekali mengenal perjuangan Mr. Assaat sebagai salah seorang patriot demokrat yang tidak kecil andilnya bagi menegakkan serta mempertahankan Republik Indonesia.
Assaat adalah seorang yang setia memikul tanggung jawab, baik selama revolusi berlangsung hingga pada tahap akhir penyelesaian revolusi. Pada masa-masa kritis itu, Assaat tetap memperlihatkan dedikasi yang luar biasa.
Ia tetap berdiri pada posnya di KNIP, tanpa mengenal pamrih dan patah semangat. Sejak ia terpilih menjadi ketua KNIP, jabatan ini tidak pernah terlepas dari tangannya. Sampai kepadanya diserahkan tugas sebagai Acting (Pejabat) Presiden RI di kota perjuangan di Yogyakarta.
Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Badan Pekerjanya selama revolusi sedang berkobar telah dua kali mengadakah hijrah.
Pertama di Jakarta, dengan tempat bersidang di bekas Gedung Komidi di Pasat baru dan di gedung Palang Merah Indonesia di Kramat. Karena perjuangan bertambah hangat, demi kelanjutan Revolusi Indonesia, sekitar tahun 1945 dipindahkan ke Yogyakarta.
Kemudian pada tahun itu juga KNIP dan Badan Pekerja, pindah ke Purwokerto, Jawa Tengah. Ketika situasi Purwokerto dianggap “kurang aman” untuk kedua kalinya KNIP Hijrah ke Yogyakarta. Pada saat inilah Mr. Assaat sebagai anggota sekretariatnya. Tidak lama berselang dia ditunjuk menjadi ketua KNIP beserta Badan Pekerjanya
SUMBER :http://history1978.wordpress.com/category/tokoh-sejarah/

ProSes KemerdeKaan IndoNesia

 
 
A.  Jepang membentuk BPUPKI


Pada akhir tahun 1944, kedudukan Jepang dalam perang pasifik sudah dalam keadaan terdesak. Sementara itu di Indonesia,selain digunakan sebagai basis pertahanan terakhir Jepang, juga digunakan sebagai sumber kebutuhan bahan mentah bagi Jepang. Kepada bangsa Indinesia, Jepang berjanji untuk segera memperoleh kemerdekaan.

Untuk membuktikan janji Jepang tersebut, perdana menteri Jepang, Kuniaki Koiso, memerintahkan kepada panglima tentara ke-16, jendrak Kumakici Harada, untuk membentuk sebuah badan penyelidik yang dinamakan BPUPKI, singkatan dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia,dan dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Coosakai.

Badan ini dibentuk oleh Jepang pada tanggal  1 maret 1045 dengan tujuan untuk menyelidiki hal-hal penting mengenai tata pemerintah Indonesia. BPUPKI beranggotakan 60 orang, dan ditunjuk sebagai ketua adalah Mr. Radjiman Wedyodiningrat.
B.   Proses penyusunan dasar negara dan Undang-Undang Dasar
Setelah sidang pertama BPUPKI, kemudian rapat pertama diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad, lembaga DPR pada jaman kolonial Belanda.     
Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Pada rapat pertama ini terdapat 3 orang yang mengajukan pendapatnya tentang dasar negara.
Pada tanggal 29 Mei 1945, Mr. Muhammad Yamin dalam pidato singkatnya mengemukakan lima asas yaitu:
  1. Peri kebangsaan.
  2. Peri ke manusiaan.
  3. Peri ketuhanan.
  4. Peri kerakyatan.
  5. Kesejahteraan rakyat.
Dalam sidang pada tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr. Mr. Soepomo mengusulkan lima asas yaitu :
  1. Persatuan.
  2. Kekeluargaan.
  3. Keseimbangan lahir batin.
  4. Musyawarah.
  5. Keadilan rakyat.
Dalam sidang pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mengusulkan lima asas pula yang disebut Pancasila yaitu:
1.   Kebangsaan Indonesia.
2.   Internasionalisme atau peri kemanusiaan.
3.   Mufakat atau demokrasi.
4.   Kesejahteraan sosial.
5.   Ketuhanan Yang Maha Esa
Kelima asas dari Soekarno disebut Pancasila yang menurut beliau bilamana diperlukan dapat diperas menjadi Trisila atau Tiga Sila yaitu:                                                                                                                                                                                                                   a. Sosionasionalisme         b. Sosiodemokrasi         c. Ketuhanan yang berkebudayaan
Bahkan masih menurut Soekarno, Trisila tersebut di atas bila diperas kembali disebutnya sebagai Ekasila yaitu merupakan sila gotong royong merupakan upaya Soekarno dalam menjelaskan bahwa konsep tersebut adalah dalam satu-kesatuan. Selanjutnya lima asas tersebut kini dikenal dengan istilah Pancasila, namun konsep bersikaf kesatuan tersebut pada akhirnya disetujui dengan urutan serta redaksi yang sedikit berbeda.
Sementara itu, perdebatan terus berlanjut di antara peserta sidang BPUPKI mengenai penerapan aturan Islam dalam Indonesia yang baru.                                                                                                                                                           
Sampai rapat pertama masih belum ditemukan kesepakatan, akhirnya kembali dengan sidang membentuk panitia kecil yang jumlahnya sembilan orang atau dikenal sebagsi Panitia Sembilan. Panitia ini bersidang pada tanggal 10 – 16 Juli 1945.
Panitia Sembilan ini diketuai oleh Ir. Soekarno, dengan anggota-anggotanya Mohammad Hatta, Abdul Kahar Muzakir, Mohammad Yamin, Ahmad Soebarjo, A.A. Maramis. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, Abi Kusno Tjokrosujoso. Panitia kecil ini menghasilkan rancangan kesepakantan bersama tentang Dasar Negara yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter yang selesai dibahas pada tanggal 22 juni 1945. Adapun isi Piagam Jakarta tersebut, yaitu :

1.      Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2.      (menurut) dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.      Persatuan Indonesia
4.      (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5.      (serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

BPUPKI mengakhiri tugasnya setelah sidang kedua, yaitu setelah sidang berhasil membuat rancangan UUD petama Indonesia yang menghendaki berdirinya sebuah Republik Kesatuan dengan jabatan kepresidenan yang kuat serta menetapkan bahwa negara tersebut tidak hanya meliputi Indonesia, tetapi juga Malaya dan wilayah jajahan Inggris di Kalimantan (Borneo). Setelah sidang BPUPKI yang kedua ini, BPUPKI dibubarkan.

                                            
                                                               Sidang BPUPKI

C.   Pembentukan PPKI

Karna keadaan Jepang makin terdesak,lalu Perdana Menteri Jepang Koiso,memutuskan
untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia pada bulan September.Oleh karena itu dibentuklah suatu panitia untuk mempersiapkan kemerdekaan yang dinamakan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dalam bahasa jepang Dokuritsu Junbi Inkai yang diketuai oleh Ir.Soekarno.
           
            Pada tanggal 7 Agustus 1945,PPKI diresmikan sesuai keputusan Jendral Besar Terauchi.
  Selanjutnya,pada tanggal 9 Agustus 1945, Ir.Soekarno, Moh.Hatta , dan Radjiman   Wedyodiningrat diundang Jendral Terauchi ke Dalat (Saigon).Tujuan pemanggilan tersebut untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia,dan mengenai pelaksanaan-nya.
        
              Kemudian hal yang tidak terduga pun terjadi Jepang menyerah kalah kepada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah kedua kota penting di Jepang, Hirosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh sekutu.lalu berita kekalahan jepang terhadap sekutu didengar oleh para pemuda melalui siaran radio BBC.Akan tetapi,ketiga pemimipin Indonesia yang diundang ke Dalat tidak mengetahui berita kekalahan jepang itu.Mereka tiba kembali ke Jakarta pada tanggal 14 agustus 1945.Tidaklah mengherankan apabila Ir.Soekarno tidak percaya akan kekalahan Jepang,pada saat sutan syahrir memberitahukannya.
                           
                           Bom Hirosima                                                      sidang PPKI 1

D.  Perbedaan pendapat antar kelompok

Para pemuda yang tahu telah menyerah pada sekutu lalu ia pun meminta kepada Ir.Soekarno dan Moh.Hatta memproklamasikan kemerdekaan. Para pemuda itu diantaranya Sukarni, Chaerul Saleh, B.M. Diah, dan Sutan Syahrir. Mereka disebut sebagai golongan muda.

Lalu para pemuda itupun mengadakan rapat di Jl.Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah selesai mengadakan rapat wakil dari golongan muda, yaitu Darwis dan Wikana menyampaikan hasil keputusan rapat kepada Ir.Soekarno. akan tetapi, kedua pemuda ini merasa kecewa karena jawaban dari Ir.Soekarno tidak sesuai apa yang diharapkan dari kedua tokoh pemuda tersebut.

Karena pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil maka pemuda kembali berunding. Kali ini tempatnya di jalan Cikini No.71 Jakarta. Mereka sepakat bahwa proklamasi itu diadakan oleh bangsa sendiri tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Mereka sepakat untuk mengamankan Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke Rengasdengklok dengan tujuan agar mereka tidak diperalak atau dipengaruhi oleh Jepang.

Peristiwa Rengasdengklok ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945, pukul 04.00 dini hari. Bung Karno beserta istrinya, Ibu Fatmawati, dan bayinya, Guntur, sreta Bung Hatta dibawa oleh sekelompok pemuda ke Rengasdengklok.Sementara itu, Ahmad Soebardjo yang pada waktu itu di Jakarta sangat khawatir akan keselamatan Ir.Soekarno dan Drs.Moh Hatta. Setelah mencari informasi akhirnya ia pun mengetahaui bahwa Soekarno dan Moh.Hatta dibawa ke Rengasdengklok. Saat itu ia pun segera pergi ke Rengasdengklok.

Sesampainya di Rangedengklok,ia pun mendengarkan para pemuda menjelaskan kenapa Soekarno-Hatta diculik, setelah mendengarkan ia pun menjamin bahwa proklamasi akan di umumkan paling lambat 17 Agustus 1945 pukul 12.00 siang. Akhirnya semua kembali ke Jakarta guna mempersiapakan Proklamasi Kemerdekaan.

Teks  Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun pada tanggal 16 Agustus 1945 tepat nya dirumah Laksamana Muda Maeda, yang beralamat di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 Jakarta

Akhirnya,menjelang dini hari tanggal 17 Agustus 1945, naskah proklamasi selesai disusun. Kalimat pertama berbunyi : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia kalimat tersebut disampaikan Ahmad Soebardjo.Kalimat kedua merupakan sumbangan ide dari Bung Hatta : Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Adapun Bung Karno dalam hal ini adalah sebagai penulisan naskah konsep proklamasi. Setelah naskah selesai akhirnya naskah itu ditandatangani oleh Bung Karno.

Setelah semua setuju, konsep naskah proklamasi yang ditulis oleh Ir.Soekarno lalu diketik oleh sayuti melik.Naskah yang diketik disebut naskah autentik (resmi).

 
            Naskah Proklamasi Konsep                             Naskah Proklamasi autentik
E.Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
            Persiapan pembacaan proklamasi sudah dilakukan sejak tadi pagi tanggal 17 Agustus 1945 di JL.Pegangsaan Timur No.56 Jakarta. Bendera merah putih sudah disiapkan beberapa waktu sebelumnya oleh Ibu Fatmawati.Persiapan lainnya adalah tiang bendera yang terbuat dari bamboo.Selain itu, sebuah mikrofon yang sudah usang.Semua itu diatur oleh pemuda anggota Barisan Pelopor,yaitu : Sudiro dan Suhud.
            Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jum’at, dengan susunan acara nya sebagai berikut :
1.      Pidato singkat dari Ir.Soekarno yang dilanjutkan dengan pembacaan teks proklamasi.
2.      Pengibaran bendera merah putih,yang dilaksanakan oleh Suhud dan Latief Hendraningrat dengan diiringi lagu Indonesia Raya.
3.      Sambutan dari walikota Suwiryo dan dr.Mawardi.

       Pembacaan naskah oleh Ir Soekarno                        Pengibaran Bendera Merah Putih
   
               Tepat pukul 10.00 WIB, Bung Karno melaksanakan cita-cita perjuangan bangsa yang sudah lama diharapkan, dengan suara yang lantang, Bung Karno membacakan teks proklamasi yang didahului pidato singkat.           
               Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sudah dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi merupakan jembatan emas yang mengantarkan bangsa Indonesia untuk mencapai kehidupan baru, yaitu kehidupan yang bebas dari tekanan dan penjajahan bangsa lain. Proklamasi kemerdekaan juga merupakan titik perjuangan bangsa indonesia untuk mengantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan.

F. Penyebaran Berita Proklamasi Kemerdekaan
     Penyebaran Kemerdekaan Indonesia sudah di bacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.Proklamasi Kemerdekaan merupakan berita yang sangat di nanti-nanti oleh segenap bangsa indonesia.Oleh karena itu, berita proklamasi tersebut segera disebarkan, baik kedalam maupun keluar.Penyebarluasan berita proklamasi tersebut di lakukan dengan beberapa media (antara lain melalaui media radio dan kantor berita, surat kabar dan selebaran-selebaran surat daerah.
1. Radio dan Kantor Berita
    Walaupun masih dikuasai Jepang, berita proklamasi berhasil disebarluaskan melalui radio. Toko yang berjasa dalam penyebarluasan berita proklamasi melalui radio tersebut adalah Yusuf Ronodipuro dan Maladi.Demikian halnya dengan peran kantor berita Jepang yang bernama Domei ( Sekarang Antara). Melalui Kantor berita tersebut, berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berhasil disebarluaskan ke Luar negeri.
2.     Surat Kabar dan Selebaran-selebaran
  
    Surat kabar yang pertama memuat berita Kemerdekaan Indonesia adalah Tjahaja yang terbit di Bandung dan Soeara Asia yang terbit di Surabaya. Selain itu, berita proklamasi juga disebarkan melalui selebaran-selebaran yang ditempelkan di tempat-tempat yang strategis dan juga di gerbang-gerbang kereta.

3.     Para Utusan Daerah

Berita proklamasi juga desebarkan melalui utusan-utusan dari berbagai daerah. Para utusan tersebut sebelumnya ikut menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Para utusan yang menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah sebagai berikut.

1.      Teuku Mohammad Hasad dari Aceh
2.      Sam Ratulangi dari Sulawesi
3.      A.A Hamidan dari Kalimantan, dan
4.      Ktut Pudja dari Bali

G. Dukungan Dari Berbagai Daerah Terhadap Proklamasi
Proklamasi kemerdekaan Indonesia mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat contohnya adalah pelaksanaan rapat raksasa dilapangan Ikada dan pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
1.      Rapat Raksasa Dilapangan Ikada

tanggal 19 september 1945 diselenggarakan rapat di Lapangan Ikada (sekarang lapangan monas). Rapat tersebut merupakan salah satu bentuk dukugan rakyat terhadap proklamasi. Setelah menunggu, akhirnya presiden Soekarno dan pemimpin-pemimpin yang lain tiba. Presiden Soekarno tidak jadi berpidato tetapi hanya menyampaikan pesan, yang isi nya antara lain meminta rakyat agar tetap percaya pada pemimpinnya. Kemudian rakyat yang hadir dimohon pulang dengan tenang sehingga dapat dihindarkan bentrokan dengan Jepang  .
                    
                                                 Rapat Raksasa Lapangan Ikada

2.      Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Yogyakatra pada tanggal 5 september 1945 beliau menyatakan dukungannya terhadap proklamasi 17 agustus 1945 dukungannya itu disampaikan melalui pernyataan sebagai berikut :
a.       bahwa negri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari negara republic Indonesia
b.      bahwa kami sebagai kepala daerah memegang segala kekuasaan dalam negeri Ngayogyakarto Hadiningrat , dan oleh karna itu, berhhubungan dengan keadaan pada dewasa ini, segala urusan negeri Ngayogyakarto Hadiningrat mulai saat inni berada di tangan kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya,
c.       Bahwa perhubungan antara negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dengan pemerintah pusat negara Republik Indonesia bersifat langsung, dan kami bertanggung  jawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia .
Kami memerintahkan supaya segenap penduduk dalam negeri Ngayogyakarto Hadiningrat mengindahkan amanat kami ini”

Ngayogyakarto Hadiningrat, 28 puasa, ehe, 1876 (5 september 1945)
            3.Peristiwa Heroik di Berbagai Daerah
             a. Insiden Surabaya.
                         Insiden Hotel Yamato adalah peristiwa perobekan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) menjadi bendera Indonesia (Merah-Putih) di Hotel Yamato Surabaya (sekarang Hotel Majapahit Surabaya) pada tanggal 18 September 1945 yang didahului oleh gagalnya perundingan antara Sudirman (residen Surabaya) dan Mr. W.V.Ch Ploegman untuk menurunkan bendera Belanda.

Gerakan pengibaran bendera Indonesia

Pengibaran bendera Indonesia setelah bendera belanda                                                                                berhasil disobek warna birunya di hotel Yamato
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan dikeluarkannya maklumat pemerintahan Soekarno31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. tanggal
Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya bendera Indonesia dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera Indonesia datang ke TambaksariStadion Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya. (lapangan
Saat rapat tersebut lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih disertai pekik 'Merdeka' yang diteriakkan massa. Pihak Kempeitai telah melarang diadakannya rapat tersebut tidak dapat menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya kemudian terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato atau Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

 Kedatangan tentara Inggris dan Belanda dalam AFNEI

Mula-mula Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.
Rombongan Sekutu tersebut oleh administrasi Jepang di Surabaya ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees: Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).

 Pengibaran bendera Belanda


Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Kabar tersebut tersebar cepat di seluruh kota Surabaya, dan Jl. Tunjungan dalam tempo singkat dibanjiri oleh massa yang marah. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa yang diwarnai amarah. Di sisi agak belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi tak stabil tersebut.

 Gagalnya perundingan Sudirman dan Ploegman

Tak lama setelah mengumpulnya massa tersebut, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

 Perobekan bendera Belanda

Hotel Majapahit Surabaya yang kini                                                                                                          dikelola oleh Mandarin Oriental.
Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui berantakannya perundingan tersebut langsung mendobrak masuk ke Hotel Yamato dan terjadilah perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik 'Merdeka' berulang kali.

 Peran peristiwa dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara AFNEI. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang memakan banyak korban baik di militer Indonesia dan Inggris maupun sipil di pihak Indonesia. Akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarnogencatan senjata. Gencatan senjata tersebut gagal dan ditambah dengan matinya Brigadir Jenderal Mallaby, berakibat pada dikeluarkannya ultimatum 10 November oleh pihak Inggris dan terjadinya Pertempuran 10 November yang terbesar dan terberat dalam sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia dan ditetapkan menjadi Hari Pahlawan. untuk meredakan situasi dan mengadakan

                       
b.Insiden di Yogyakarta
                        Perebutan kekuasaan di Yogyakarta dimulai pada tanggal 26 September 1945. Semua pegawai instansi pemerintah dan perusahaan yang dikuasai Jepang mengadakan aksi pemogokan. Mereka pun memaksa untuk menyerahkan semua kantor berita kepada Pemerintah Republik Indonesia. Tanggal 27 September 1945, Komite Nasional daerah Yogyakarta mengumumkan bahwa Yogyakarta telah berada ditangan Perintah republic Indonesia.

Tuesday, 9 October 2012

PROFIL DAN MISTERI PAHLAWAN SUPRIYADI

PROFIL SUPRIYADI
Supriyadi adalah pahlawan nasional, tokoh pejuang kemerdekaan dan simbol perlawanan terhadap pendudukan Jepang. Namanya populer sebagai tokoh PETA yang memberontak terhadap pendudukan Jepang di Blitar Jawa Timur pada Bulan Februari 1945. Beliau lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 dan meninggal tahun 1945. Setelah tamat ELS (setingkat Sekolah Dasar), Suprijadi melanjutkan pendidikan ke MULO (setingkat Sekolah Pertama), kemudian memasuki Sekolah Pamong Praja di Magelang.
Pada masa pendudukan Jepang, Suprijadi memasuki Sekolah Menengah Tinggi. Sesudahnya, ia mengikuti Latihan Pemuda (Seinendoyo) di Tangerang. Pada bulan Oktober 1943, Jepang membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA). PETA dibentuk dengan tujuan untuk memberikan latihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda Indonesia. Mereka selanjutnya akan dipakai untuk membantu Jepang menahan serbuan sekutu. Tetapi, tokoh-tokoh pergerakan nasional berhasil menanamkan perasaan kebangsaan di kalangan pemuda-pemuda tersebut.
Suprijadi mengikuti pendidikan peta dan sesudah itu diangkat menjadi Shodanco di Blitar.Ia sering bertugas mengawasi para romusya membuat benteng-benteng pertahanan dipantai selatan.Ia menyaksikan bagaimana sengsaranya para romusya.Makanan kurang dan kesehatan tidak terjamin.Banyak diantaranya yang meninggal dunia karena sakit.Suprijadi tidak tahan melihat keadaan itu.Dengan beberapa orang temanya,ia merencanakan pemberontakan melawan jepang.Walaupun menyadari bahwa waktu itu Jepang sangat kuat,namun ia tetap berniat untuk melakukan perlawanan.
Pemberontakan dilancarkan dinihari tanggal 14 februari 1945, di Daidan Blitar. Jepang sangat terkejut mendengar perlawanan tersebut. Mereka mengerahkan kekuatan yang besar untuk menangkap anggota-anggota pasukan Peta Blitar.Selain itu,dilakukan pula siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak.karena kurang pengalaman dan kekuatan tidak seimbang pemberontakan itu ditindas Jepang.Tokoh-tokoh pemberontak yang tertangkap,diadili dalam mahkamah militer Jepang. Ada yang dihukum mati dan ada pula yang dipenjara. Suprijadi tidak ikut diadili,bahkan namanya tidak disebutkan dalam sidang pengadilan. Rupanya ia sudah di bunuh Jepang pada waktu tertangkap. Sampai saat ini tidak diketahui dimana makam suprijadi.
Selain karena nama Supriadi tidak di umumkan pada sidang pengadilan, dan juga makamnya tidak ditemukan , maka dari itu muncullah pernyataan bahwa Supriayadi masih hidup, namanya tidak tercantum di sidang perngadilan karena dia melarikan diri.

MASIH HIDUPKAH SUPRIYADI ??
Semarang, Supriyadi. Tokoh pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan tentara Dai Nippon. Namun pasca pemberontakan itu, Supriyadi menghilang bahkan dikabarkan gugur. Benarkah?

Semua teka-teki tentang tokoh besar ini baru terjawab pada Sabtu 8 Agustus lalu. Pejuang kemerdekaan itu muncul dalam sebuah acara peluncuran buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jl Pandanaran. Buku yang dibedah juga terkait dirinya, yakni 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pengawal Utama Presiden'.
Sosok Supriyadi benar-benar datang dalam acara yang dihadiri sekitar 60 orang tersebut. Bertindak sebagai pembicara adalah sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya.

Supriyadi sempat diwawancarai wartawan Jerman. Dia mengaku dirinya tidak mati atau hilang. Usianya sudah sangat lanjut, yakni sekitar 89 tahun.

"Dia kurus. Namanya bukan Supriyadi, tapi Andaryoko Wisnuprabu. Tapi dalam wawancara itu, dia mengaku sebagai Supriyadi," kata salah satu pengunjung diskusi, Isti (28).

Isti yang tinggal di Kawasan Timur Semarang itu menambahkan, banyak orang tidak tahu Supriyadi akan hadir di acara itu. Sebab, acara yang digembor-gemborkan justru bertajuk "Mereka Menodong Bung Karno" dengan pembicara mantan Pengawal Soekarno, Soekardjo Wilardjito.

Untuk menghindari penangkapan oleh tentara Jepang, pejuang Pembela Tanah Air (PETA), Supriyadi, mengganti nama. Selain itu, dia juga memelihara kumis.

Saat bertemu Bung Karno di Pegangsaan Timur No 56, Supriyadi diminta pergi ke Semarang. Dia harus menemui Wakil Residen Semarang, Wongsonegoro.

"Saya diterima menjadi staf Kantor Residen Semarang. Nama saya diganti menjadi Andaryoko," kata Supriyadi sebagaimana ditirukan salah satu pengunjung bedah buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran, Isti (28), Senin (11/8/2008).

Sejak memulai hidup di Semarang, Supriyadi memelihara kumis. Meski punya nama baru, di Jakarta, dia tetap dikenal sebagai Supriyadi.

Supriyadi tidak sempat menceritakan liku-liku hidupnya selama di Semarang. Dia hanya menyebutkan hal-hal penting terkait sejarah negara Indonesia.CGP